Kamis, 21 Maret 2013

Mencari Jodoh Dalam Pandangan Islam


Himpunan santri alumni pondok pesantren sirojuth thyolibin brabo tanggungharjo grobogan

Mencari Jodoh Menurut Islam

Ada tiga hal di dunia yang pasti menjadi rahasia Allah, dan hanya Allah yang menetapkan. Juga tiga hal ini menjadikan manusia berlomba-lomba untuk saling menebak, meramal dan menjadi tujuan dan keingintahuan manusia. Dari dulu sampai sekarang masalah tiga ini tidak juga berubah.

Penasaran, apa itu?

Pertama : masalah rezeki.


Setiap orang pastinya selalu penasaran ingin tahu dimana rezekinya. Apakah mereka akan menjadi sukses dikemudian hari/ Dilimpahi banyak rezeki? Dimudahkan urusannya? Atau mereka akan menjadi orang yang sengsara, miskin? Maka itu, seringnya orang mencoba mencari tahu lewat ramalan masalah yang satu ini. Padahal, sesungguhnya rezeki hanya menjadi rahasia Allah.

Yang kedua : adalah Jodoh.


Kebanyakan orang selalu penasaran dan bertanya dalam hatinya, “siapakah jodohku?” walau orangnya sendiri seringkali berganti-ganti pasangan ketika membina hubungan, tetap saja pertanyaan itu muncul di kepala seolah-olah menjadi hantu yang mengikuti dari belakang.

Jodoh adalah hal kedua yang menjadi rahasia Allah. Namun tidak sedikit yang berupaya mengintip lewat ramalan. Padahal, hanya Allah lah sang penjaga rahasia yang tidak akan pernah terbongkar.

Yang ketiga, yang seringkali menakutkan, dan sebenarnya juga dihindari untuk dicari tahu, namun juga punya keinginan untuk tahu.
Tapi, bila sudah tahu pasti menyesal untuk mengetahuinya. Itu adalah kematian.

Kematian adalah sesuatu yang paling ditakutkan oleh manusia. Karena kematian akan memisahkan kehidupan yang tengah dijalani. Memutuskan semua kenikmatan yang ada, dan kemudian merupakan tempat paling misterius di Dunia.

Apakah kematian termasuk usaha yang dilakukan manusia untuk mengetahuinya. Jawabannya, tidak. Walau kematian adalah misteri yang mengundang penasaran, orang lebih cenderung mengabaikannya.

Berbeda dengan Islam yang mencoba menyadarkan manusia untuk mengenal kematian, manusia sendiri cenderung menghindarinya. Kematian adalah rahasia Allah yang paling rapat tertutup. Kita tidak pernah tahu kapan akan meninggal atau mati. Di mana tempatnya dan dalam keadaan yang bagaimana. Semua hanya menjadi Rahasia Allah semata.

Tiga hal tersebut adalah hal-hal yang seringkali mengundang banyak keingintahuan, sekaligus penyadaran manusia bahwa ketiganya adalah rahasia Allah. Kali ini, yang akan dibahas bukan tentang rezeki ataupun kematian, namun tentang jodoh yang merupakan rahasia Allah.

Jodoh menurut Islam sudah ada aturan tersendiri yang mesti dipatuhi oleh umat manusia.

Jodoh Menurut Islam

Belakangan, orang cenderung mencari jodoh dengan cara berpacaran dahulu. Berkenalan, bisa lewat internet, telepon, kontak jodoh dan pertemuan langsung. Salahkah? Bukan salah, selama mencari jodoh menurut Islam sudah benar, maka tidak ada yang salah. Pertemuan jodoh menurut Islam yang terbaik adalah dengan taaruf.

Taaruf adalah salah satu perantara jodoh menurut Islam, dan diperbolehkan secara syari’at. Taaruf adalah pertemuan dua orang laki-
laki dan wanita yang ditemani muhrim sang wanita. Gunanya untuk saling bertukar informasi tentang diri masing-masing.

Tujuan untuk taaruf pastinya jelas, menuju jenjang pernikahan. Pun ketika taaruf terjadi dan keduanya hendak melakukan pendekatan lebih jauh, mereka akan dikawal oleh muhrim yang wanita, hal itu untuk menjauhkan diri keduanya dari fitnah dan perbuatan maksiat.

Pihak laki-laki pun berhak mencari tahu tentang calon jodohnya melalui teman-teman perempuan atau keluarga dekat perempuan sebelum dia memutuskan untuk meminang sang wanita.

Nah, inilah cara mencari jodoh menurut Islam yang diperbolehkan. Bagaimana dengan pacaran? Kalau pacaran, bukanlah ajang mencari jodoh yang sesungguhnya. Ini adalah cara orang barat untuk melanggengkan hubungan tanpa ikatan. Bayangkan, hanya dengan berkata cinta, seorang laki-laki dan perempuan sudah bisa berdekat-dekatan, bahkan melakukan hubungan suami istri.

Jadi, pacaran sungguh-sungguh salah dalam Islam, dan tidak dibenarkan menurut sya’riat. Lalu, bagaimana dengan perjodohan kuno yang seringkali terjadi di dalam adat istiadat bangsa Indonesia? Hakekatnya menjodohkan mirip dengan taaruf. Yang berperan adalah kedua orangtua. Pastinya orangtua ingin dong anaknya mendapat yang terbaik 
 
Biasanya calon jodoh yang dipilihkan orangtua untuk anak perempuannya adalah laki-laki yang mapan. Dan untuk anak laki-laki
mereka, orangtua akan menjodohkan dengan wanita yang berasal dari keluarga baik-baik. Cara menjodohkan menurut adat ini juga mirip dengan jodoh menurut Islam. Sayangnya, banyak orang yang menganggap cara seperti ini kuno dan ketinggalan jaman. Mereka menganggap bahwa perjodohan tidak didasari atas cinta. Lagi-lagi orang barat memasukkan unsur “pergaulan bebas” dengan mengatas namakan cinta. Padahal cinta yang hakiki dan sungguh-sungguh justru terbina di dalam ikatan rumah tangga, dan bukan ikatan pacaran yang hanya sesaat.

Pernikahan Dalam Pandangan Islam

Anggapan yang mengatakan tentang perjodohan yang singkat tidak mendatangkan cinta dan bukan berdasar cinta harus diberantas habis. Mengapa? Lihatlah bukti paling kongkrit dan tidak terbantahkan.

Berapa banyak pernikahan yang dimulai dari niat baik dan kemudian diakhiri dengan akad nikah di pelaminan dan akhirnya bertahan sampai kakek nenek? Jangan salah kaprah dengan kata “cinta “ yang demikian gombal dan di elu-elukan. Hubungan cinta tanpa dasar ikatan pernikahan hanyalah berdasar nafsu belaka. Percaya?

Kalau Anda tidak percaya, silahkan lihat kasus kehamilan di luar nikah yang belakangan semakin banyak korbannya. Itu semua tercipta dari gempuran “cinta” ala barat yang mengedepankan hubungan tanpa ikatan dan mengedepankan napsu belaka.

Maka, daripada jatuh ke lembah dosa, lebih baik mengikuti syari’at Islam. Sesungguhnya Allah maha tahu apa yang benar-benar dibutuhkan manusia, sebagai mahkluk ciptaannya. Maka itu, Allah menghalalkan pernikahan sebagai bentuk cinta tertinggi nan hakiki.

Menikah, lalu memiliki anak dan membentuk rumah tangga yang penuh tanggung jawab dan ketenangan di dalamnya.

Bukankah
Islam itu Indah?

Jadi, ayolah. Mulai sekarang, saat ini juga, ikuti aturan jodoh menurut Islam. Jangan ikuti jodoh dengan cara-cara yang tidak benar. Dengan cara pacaran, TTM, atau pun sejenisnya. Pun pernikahan kontrak dilarang dalam Islam. Karena Islam menilai sebuah pernikahan sebagai ladang amal bagi umat manusia, baik yang laki-laki maupun yang wanita.

Islam Itu Indah
Jangan cuma sekedar ngaku-ngaku sebagai rombongan kaum muslim terbanyak dong, tapi perintah Allah masih dilanggar, gaya Barat yang non muslim menjadi trend setter. Giliran di ajak melakukan pencarian jodoh menurut Islam, langsung ogah dan angkat tangan.

Peraturan Islam tidak pilih-pilih. Karena suka atau tidak suka, semua sama rata. Semua berguna untuk kemaslahatan umat. Tidak ada aturan Islam yang sia-sia termasuk mencari jodoh menurut Islam dan juga perkawinan di dalam Islam. Bahkan hal terkecil seperti adab ke WC pun adalah adab yang baik. Islam menganut kebersihan. Juga mengedepankan cinta dan tanggung jawab. Jangan menganggap aturan Islam itu kuno dan primitif, namun aturan Islam abadi dan langgeng karena penuh kebaikan di dalamnya. Allah sudah menurunkan Islam ditengah-tengah manusia agar menjadi tuntunan hidup.

Semua sudah diatur. Mulai dari mencari jodoh, pernikahan, mengasuh anak, menyantuni anak yatim, mau tidur, makan, selesai makan. Ketika bekerja. Waris, perdagangan. Hubungan antar tetangga. Hubungan dengan saudara. Hubungan ibu dan anak, hubungan ayah dan anak, bahkan hubungan suami istri, dan juga hubungan seks antara suami dan istri. Semua sudah diatur demikian indah.

Semua penuh dengan kebaikan. Setiap aturan yang dipenuhi mendapat satu pahala. Menjadi lebih baik, dan kemudian dilimpahi pahala. Betapa indah bukan. Anda menjadi baik, lalu mendapat sertifikat masuk surga.

Hm, siapa yang tidak ingin ya...!????
Jadi. Ayo, mulailah kembali ke jalan Islam. Stop pacaran, lakukan taaruf dalam mencari jodoh menurut Islam. Niscaya kamu sudah mendekati kebaikan dan indahnya surga kelak.

Wa Allohu A'lam..........


Rabu, 20 Maret 2013

32 Dosa Suami Kepada Istri Dan 26 Dosa Istri Kepada Suami

Himpunan santri alumni pondok pesantren sirojuth thyolibin brabo tanggungharjo grobogan


Kesediaan diri untuk mengintrospeksi diri, meminta maaf dan saling menasehati merupakan mutiara berharga yang telah hilang dari rumah tangga kita. Betapa keharmonisan akan terwujud dan kebaikan akan memadati rumah tangga kita bila sepasang suami istri mau saling menasehati dan saling memaafkan kesalahan pasangannya.

Salah satu sikap positif yang harus dikembangkan dalam kehidupan rumah tangga adalah kesediaan untuk selalu mengintrospkesi diri dan meminta maaf bila melakukan kesalahan. Kelapangan hati untuk mau mengakui semua kesalahan dan meminta maaf kepada pasangan hidupnya akan menjadi energy digdaya tersendiri untuk mengharmoniskan hubungan suami-istri. Sehingga, diantara suami-istri tidak terjadi ganjalan perasaan dan ketidakpuasan yang terpendam yang bisa mengganggu kemesraan dan keindahan hidup berumah tangga.

Kebahagiaan dan ketenangan hidup terwujud dengan adanya hubungan pernikahan yang bahagia. Dan, kebahagiaan pernikahan itu terwujud bila suami istri memiliki agama yang benar, akal yang sehat, dan akhlak yang mulia. Ditambah lagi dengan cinta yang tulus, saling memenuhi hak, dan masing-masing menasihati pasangannya.

Bila masing-masing suami istri menunaikan kewajibannya secara sempurna sesuai dengan kesanggupannya, maka kebahagiaan dan kegembiraan akan terwujud, problematika akan hilang atau paling tidak berkurang. Kondisi ini sangat berpengaruh pada kebaikan keluarga dan kekuatan umat.

Dalam tulisan ini, penulis mengangkat beberapa penjelasaan dari karya Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd dalam bukunya berjudul;

26 dosa istri dan 32 dosa suami yang melatarbelakangi beberapa kesalahan dan dosa yang mungkin istri dan suami lakukan.

Yang perlu di ingat......

Menyebutkan kesalahan bukan berarti kesalahan tersebut mencakup seluruh kesalahan istri begitupun kepada suami. Di antara mereka ada yang memiliki banyak kebaikan dan sedikit kekurangan. Dan dalam artikel ini Juga tidak bermaksud agar suami istri menjadikan kesalahan tersebut sebagai media untuk menghitung-hitung aib istri dan suami.

26 Dosa Istri Kepada Suami:

1. berlebihan dan menuntut kesempurnaan
2. kurang memperhatikan orang tua suami
3. kurang mempercantikkan diri di hadapan suami
4. banyak berkeluh kesah dan kurang bersyukur
5. mengungkit ungkit kebaikan kepada suami
6. menyebarkan masalah rumahtangga kepada orang lain
7. kurang memperhatikan posisi dan status sosial suami
8. kurang membantu suami dalam kebajikan dan ketakwaan
9. membebani suami dengan banyak tuntutan
10. membuat suami risau dengan banyak menjalin hubungan
11. bersikap nusyuz terhadap suami
12. menolak ajakan suami berhubungan badan
13. lalai dalam melayani suami
14. memasukkan orang yang tidak diizinkan suami de dalam rumahnya
15. keluar dari rumah tanpa izin suami
16. menaati suami dalam kemaksiatan kepada Allah swt
17. cemburu berlebihan terhadap suami
18. buruknya perilaku isteri bila suamiberpoligami
19. lalai dalam mendidik anak-anak
20. kurang perhatian terhadap keadaan dan perasaan suami
21. menyebarluaskan rahsia tempat tidur
22. isteri mendeskripsikan seorang perempuan kepada suami
23. menggugat kepimpinan suami
24. isteri yang ikhtilah dan tabarruj di hadapan kaum laki-laki
25. kurang setia terhadap suami
26. kurangnya ketakwaan kepada Allah setelah berpisah dari suami

Dosa suami kepada Istri

1. Lalai Berbakti kepada orang tua setelah menikah
2. Kurang serius dalam mengharmonisasikan antara istri dan orang tua
3. Ragu dan buruk sangka kepada istri
4. Kurang memiliki sikap cemburu terhadap istri
5. Meremehkan kedudukan istri
6. Melepaskan kendali kepemimpinan dan menyerahkannya kepada istri
7. Memakan Harta istri secara batil
8. Kurang semangat dalam mengajari istri ajaran-ajaran agamanya
9. Bersikap pelit terhadap istri
10. Datang secara tiba-tiba setelah lama pergi
11. Banyak mencela dan mengkritik istri
12. Kurang berterima kasih dan memotivasi istri
13. Banyak bersengketa dengan istri
14. Lama memutus hubungan dan meninggalkan istri tanpa sebab yang jelas
15. Sering berada di luar rumah dan jarang bercengkrama dengan keluarga
16. Interaksi yang buruk dengan istri
17. Tidak menganggap penting berdandan untuk istri
18. Kurang perhatian terhadap Doa yang dituntun ketika menggauli istri
19. Kurang memperhatikan Etika, Hikmah dan Hukum hubungan badan
20. Menyebarkan rahasia ranjang
21. Tidak mengetahui kondisi biologis perempuan
22. Menggauli istri ketika haid
23. Menggauli istri pada duburnya
24. Memukul istri tanpa alasan
25, Kesalahan tujuan poligami
26. Tidak bersikap Adil antara beberapa istri
27. Terburu-buru dalam urusan Talak
28. Tidak mau mentalak, padahal sudah tdk mungkin ada perbaikan dan kecocokan
29. Mencela istri setelah berpisah dengannya
30. Menelantarkan anak-anak setelah mentalak istri
31. Kurang setia terhadap istri
32. Kurang puas dan selalu melirik perempuan lain
.

Wa allohu A'lam.......